Buat Mouna Kholil dari Walter Dale *)
Mouna Kholil,
Terakhir aku melihatmu di Bandara, melihatmu berlalu, menuju pesawatmu.
Pesawatmu yang akan membawa ke tempat yang dulu kau sebut rumah, sebuah rumah yang memintamu untuk pergi. Berjarak ribuan kilometer dari tempatku. Rumah yang membunuh suamimu.
Pesawatmu akan membawamu pergi meninggalkan negeri yang ingin kamu bangun sebagai rumah bagimu dan juga anakmu.
Negeri yang kemudian juga membuatmu dan anakmu untuk pergi.
Sudahkah kamu membangun kembali “rumah”di sana?
Di negeri leluhurmu yang telah kau tinggalkan selama 10 tahun.
Kau masih bertanya – Tanya mengapa aku melakukan semua itu?
Memperjuangkan anakmu, Tarek?
Berjuang untuk seorang asing yang menyerobot apartemenku?
Apa yang telah diberikan anakmu padaku sampai aku mengorbankan banyak hal?
Begitu bukan pertanyaanmu??
Mouna Kholil yang baik,
Aku mengerti mengapa kamu pergi dari rumahmu, setelah suamimu meninggal, sejak istriku meninggal, hidupku berubah, kosong, seperti tak punya hidup dan kegairahan, bahkan untuk sebuah senyum pun aku tak bisa melakukannya, hidupku monoton.
Bahkan untuk mengahdirkan kenangan istriku aku belajar bermain piano, dan 4 guru mengajariku sampai mereka frustrasi. Kau sudah mendengarkan istriku bermain musik bukan? Indah sekali… dan aku ingin menghadirkan keindahan itu lewat piano yang ditinggalkan istriku dengan jari – jariku. Tidak cukup lewat cd yang diputar berulang, terdengar tidak manusiawi bagiku.
Malam itu aku datang ke apartemen yang tak pernah kutinggali dan aku menemukan anakmu dan kekasihnya, zainab, di apartemenku.
Aku tidak bisa berkata apa2, aku kasihan dengan mereka, malam – malam mereka harus mencari tempat untuk bermalam. Akhirnya 2 orang asing itu bagiku, kubiarkan tinggal di apartemenku, lagipula aku juga jarang tinggal di apartemen itu.
Ohya…tentang apa yang dilakukan anakmu untukku sehingga aku mau melakukan banyak hal untukmu.
Bukan hal yang besar, bukan suatu yang istimewa mungkin bagimu, dan juga bagi anakmu, Tarek hanya mengajariku mendengarkan dan memukul jimbe.
Tarek mengajariku untuk mendengarkan hatiku, untuk mengikutinya.
Bahwa musik bukan sekedar suara, musik adalah jiwa, bermain musik bukan sekedar irama tetapi juga berhubungan dengan hati dan jiwa.
Sejak aku menepuk jimbe itu, gairahku kembali.
Aku merasa hidup, Mouna. Aku bahagia.
Hidupku seperti menemukan kembali semangatnya, berirama rancak seperti Jimbe yang ditepuk Tarek, aku punya keberanian kembali untuk melihat dunia dengan senyum.
Ada yang bisa membuatku tersenyum.
Irama jimbe yang dipukul berirama dengan rancak menjadi irama hidupku.
Langkahku, gerak tubuhku, tarikan nafasku, detak jantungku, menjadi rancak seirama dengan jimbe yang kutepuk.
Sungguh, Mouna, Tarek telah mengajariku hal besar bagiku, mungkin bagi Tarek itu hal biasa, hal yang simple, juga mungkin bagimu atau Zainab.
Kadang kadang kita tak perlu melakukan sesuatu yang besar untuk berarti bagi seseorang, bukan?
Bukan dengan sesuatu yang istimewa, hal – hal kecil dan sederhana bisa membuat kita tersenyum, bisa membuat bahagia.
Bagiku Tarek telah mengubah hdiupku dengan irama jimbenya.
Itulah sebabnya aku berusaha mati – matian membebaskan Tarek saat tertangkap imigrasi dan bersiap dideportasi.
Itu sebabnya aku meninggalkan pekerjaanku dan aku menyewa pengacara untuk tarek.
Karena pukulan jimbe….menjadikan hidupku rancak.
Selain rasa bersalahku, saat bersamaku aku tertangkap, saat ia membayariku tiket kereta, Karena aku ia tertangkap, dipulangkan dan ia tak bisa membangun “rumah” di sini.
Maafkan aku…tapi tak ada seandainya bukan?
Maafkan aku, yang tak berhasil berjuang untuk anakmu.
Maafkan aku, yang tak bisa ikut menyumbangkan wujud mimpi kalian.
Maafkan aku, Mouna Kholil…
Aku harap kamu dan Tarek bisa membangun “rumah” yang indah.
Katakan pada Tarek, aku masih menjaga jimbenya, aku masih berlatih dengan keras.
Katakan padanya aku menunggunya di pojok stasiun subway dengan jimbe, carilah seorang lelaki tua yang sedang memainkan jimbe di tengah riuh kereta dan orang – orang yang lalu lalang. Ia tahu tempatnya, sebab tempat itulah yang sangat ia inginkan untuk memainkan jimbenya.
Katakan terimakasihku untuk irama hidup yang telah ia ajarkan
*) Walter Dale, Mouna Khoulil, Tarek Khoulil dan Zainab adalah tokoh dalam film The Visitor, yang disutradarai Thomas McCarthy
November 26, 2008 pada 5:13 am
” Kadang-kadang kita tak perlu melakukan sesuatu yang besar untuk berarti bagi seseorang, bukan? ”
statement yang paling aku suka, sounds so real in this life:)
November 26, 2008 pada 7:53 am
Wah, udah keduluan nina!!! hohoho….*lirik2 mode on*.
Bagus je, mas tulisanmu. Kok bisa to bikin gitu? Kok ya ada ide pake tokoh2 film trus bikin cerita gitu, to? *garuk2 kepala*. Four thumbs up! hehe…
Desember 1, 2008 pada 4:39 am
@nina, yang simpel itu indah, yang kecil bisa berarti besar bukan?
@indri, hmmmm…terimakasih…kamu juga bagus kalo nulis ndri..:)