Buat Nawang Wulan

Posted in Surat on Januari 28, 2009 by alliandasudarsa

Kali ini di telaga mana kau melepas selendangmu dan berenang?Berendam? Memuaskan hasratmu akan air bumi yang jernih dan dingin? Bermain main air, saling mencipratkan air bersama saudara saudaramu?

Aku membayangkan kau melayang dengan selendangmu, mencari cari telaga atau sendang atau mata air yang bisa kau gunakan untuk bermain – main air? Dan tak kau dapati air yang jernih. Telaga yang indah yang bisa memantulkan cahaya purnama.

Banyak telaga yang mengering, dikelilingi hutan yang gundul, bukit bukit yang tak berhutan. Mata air yang mengering. Banyak sendang yang berbau, penuh busa detergen atau berbau kotoran manusia. Telaga – telaga tak bisa kau renangi lagi sebab dangkal dan penuh eceng gondok atau tumbuhan gulma lainnya.

Kau melayang diantara awan – awan. Dari telaga ke telaga, dari mata air ke mata air. mencari kejernihan air yang bisa membuat bersenang. Aku juga mencarimu dari telaga ke telaga. Mengendap ngendap mencarimu. Setiap kali kamu dan saudara saudaramu melayang turun aku bersiap – siap di balik semak belukar bersiap – siap mengintipmu kemudian bersiap – siap mencuri selendangmu. Tak setiap kali aku siapkan diri, kalian langsung terbang kembali.

Di telaga manakah kali ini kau berada? Telah ratusan telaga kusambangi dan mungkin juga kau dan saudara – saudaramu.

Aku ingin menggenapi kisah kita, nawang wulan. Aku ingin mengendap – mengendap, mengintip ketelanjanganmu kemudian aku terbakar api birahi, ingin memilikimu. Kemudian aku mencuri selendangmu dan kemudian aku akan bersiul atau berdehem agar kalian terbirit – birit berpakaian dan terbang lalu aku melihatmu kebingungan sebab tak kau temukan selendangmu juga pakaianmu. Aku menunjukkan diriku dan masih di air kau memohon padaku, untuk menolongmu.

Aku ingin menggenapi kisah kita. Aku ingin meminangmu dan kemudian kita menikah. Agar kau memberiku Nawangsih, anak kita. Agar kau tanak nasi dengan sebutir beras. Agar kubuka periuk itu. Agar kau hilang kekuatanmu dan kau harus menjadi manusia biasa yang menanak beras dan menumbuk padi. Agar kau temukan selendang dan ananta kusuma-mu di balik padi – padi yang habis kau tumbuk. Agar kau tinggalkan aku juga nawangsih Agar kubakar jerami hitam setiap kali nawangsih meminta susu.

Kisah kita tak lagi genap, Sebab telah kering telaga – telaga itu Sebab berbau anyir juga berbusa mata air – mata air itu. Sebab telah kubabat bukit juga hutan dan kubunuh akar akar itu Sebab telah kubuang segala sampah ke telaga telaga itu.

Aku ingin menggenapi kisah kita tetapi kamu tak mungkin mandi di kamar mandi atau sumur atau bathtub atau shower, bukan, nawang wulan??

Selamat Natal

Posted in Surat on Januari 12, 2009 by alliandasudarsa

Malam natal aku meneleponmu.

Kuharap bisa mengucapkan selamat natal padamu.

Tetapi aku tidak bisa menghubungimu. Mungkin kamu sedang di gereja. Besoknya aku juga mencoba menghubungimu tetapi masih juga ponselmu tidak bisa dihubungi.

Aku tidak menghubungimu lewat apalagi, hanya nomor itu yang aku punya.

Dimana kamu merayakan natal kali ini? di rumahmu? Bersama saudara – saudaramu dan orangtuamu?

Kau tidak menyukai ucapan selamat untuk appaun lewat SMS. Apalagi dengan template yang dikirim dengan fasilitas “sen to all”.

Menyebalkan, katamu, tidak ada unsur personal. Padahal perayaan itu, entah natal atau apapun adalah sesuatu yang personal.

Itulah sebabnya kamu maish mengirimkan kartu – kartu natal bagi siapapun yang kamu kenal.

Aku mendapatkan satu darimu tetapi seperti baisa tanpa alamatmu hanya namamu, jadi aku tidak bisa membalasnya.

Kamu masih mengirimkan surat – surat bertuliskan tangan lewat pos untuk menyapa sahabat – sahabatmu. Jika pun kamu tak sempat mengirimkan kartu atau surat kamu akan meneleponnya.

Masa persahabatan kita hanya dihargai 150 rupiah seharga sebuah sms, katamu suatu ketika.

SMS bukan kamu yang menuliskan (apalagi yang template) tetapi sebuah mesin juga dengan email, katamu.

Tetapi jaman sudah mengalir, tak bisakah kamu mengikuti jaman yang berubah ini?

Tidak, katamu, ada yang berubah juga ada yang harus tetap dijaga.

Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku yang mengucapkan selamat natal itu, agar kamu bisa merasakan bahwa aku yang menuliskan dengan tanganku sendiri diata skartu natal itu.

Ya, malam natal itu aku meneleponmu, aku ingin mengucapkan selamat natal, agar kamu tahu bahwa aku secara pribadi yang mengucapkan selamat natal padamu.

Tetapi kamu tidak menyukai sms atau email, dan sekarang aku tak bisa menghubungimu dan aku tidak tahu alamatmu untuk mengirimkan kartu natal ataus ebuah surat padamu.

Jadi terpakasa kutuliskan lewat blog ini “Selamat Natal dan Tahun Baru”

Maaf terlambat…..

Tentang Kenangan

Posted in Surat dengan kaitan (tags) , , , , on Desember 2, 2008 by alliandasudarsa

2 Desember 2008

Bagaimanakah sebuah kenangan datang pada kita?

Awalnya ku pikir peristiwa – peristiwa yang ku tinggalkan di belakang ku hilang tak berbekas, menghilang ditelan waktu, kupikir aku telah meninggalkannya sebagai sebuah peristiwa yang tak akan datang kembali.

Tetapi peristiwa – peristiwa itu ternyata meninggalkan jejak, tidak hilang begitu saja.

Sebuah kenangan kadang datang begitu saja menyergap kita di jalan yang sunyi, seperti seorang pencuri. Kenangan mungkin tak pernah diundang atau jika pun diundang tidak hadir dengan lengkap, hanya sepotong – potong.

Mungkin kau pernah mengenang sebuah jejak di masa lalu, mengingat nama – nama, tempat, waktu…tetapi kau tak bisa lengkap mengingatnya…

Tetapi ketika kenangan itu datang begitu saja, menyergap, lintasan lengkap datang kepadamu.

Utuh, yang akan membuatmu menarik nafas panjang, tersenyum kecil, atau menitik kan air mata. Mungkin kau menutup matamu, membiarkannya diam sambil berharap moment itu kembali. Mungkin kau menutup matamu dengan kuat, mengerutkan dahimu agar enyah.

Setiap kenangan datang padamu, akan muncul kata ajaib, andai, seumpama, kalau saja… tetapi kenangan itu tak abadi, kenangan itu datang sesekali pada kita, diundang atau tidak, dipanggil atau tidak, kenangan akan kembali menyelinap ke balik milyaran sel – sel neutron di otak kita.

Aku selalu membayangkan seperti di film – film.

Saat kita melihat sesuatu, mendengar sesuatu, mencium sesuatu, merasakan sesuatu, ada yang berlarian di otak kita, menelusuri sel – sel, membuka halaman – halaman buku dengan cepat , lintasan – lintasan cahaya menyusuri neutron kita, dan buuum sebuah gambar yang bergerak, menayangkan ulang sebuah peristiwa, dengan jelas seperti menonton sebuah film.

Suatu kali mungkin kau mendengar sebuah kalimat (atau hanya sebuah kata) yang akan mengingatkanmu akan sebuah peristiwa.

Kali lain kau mungkin kau merasakan dingin atau panas atau rasa sakit di kulitmu yang membuatmu melihat sebuah peristiwa di masa lalu.

Sebuah bau yang kau cium, sepotong benda yang remeh temeh yang kau lihat , akan tak terduga membawamu pergi ke sebuah peristiwa di deretan jejakmu yang kau tinggalkan.

Itulah mungkin kau suka menyimpan barang – barang dari sebuah peristiwa.

Itu sebabnya mungkin kau menyukai photo – photo yang berjejer dalam album.

Itu sebabnya mungkin kau menyimpan lagu – lagu itu.

Agar kau bisa terbantu saat mengali ingatan. Kau membutuhkan sesuatu, sebagai stimulant untuk merangsang milyaran neutron bekerja menggali ingatan yang tersimpan rapi, menyelinap diantara milyaran peristiwa di otakmu.

Dan mungkin ada peristiwa – peristiwa yang tetap muncul, yang mengganggumu, yang datang ke mimpi – mimpimu, atau bahkan saat membuka matamu, semua benda, semua bau, semua rasa, semua suara, membuatmu tak bisa mengelak dari ingatan yang terus menerus datang, kau tak bisa mengenyahkannya.

Peristiwa yang tidak menyelinap jauh di neutron otakmu. Tetapi begitu dekat bahkan tanpa kau undang pun ia datang setiap detik.

Ingatan itu, kenangan itu selalu datang di belakangmu, menikammu dari belakang tiba – tiba saja, tiba – tiba kau menangis begitu saja atau tertawa bahagia atau kau menahan sebuah rasa sakit , berusaha mengenyahkannya. Tetapi kau selalu gagal.

Bahkan tanpa sebuah benda, sebuah rasa, sebuah bau atau sebuah suara pun, ingatan itu datang padamu, seaakan menjadi pendamping sepanjang hidupmu, mengikuti seperti teman yang setia, mungkin duduk di bahumu, seperti seorang peri yang mendampingimu, menghadirkanmu sebuah ingatan yang akan menyentakmu, membuatmu diam sepersekian detik, yang akan membuatmu tersenyum bahagia, atau sebuah rasa sedih yang berlebihan.

Seperti seorang pencuri, kita tak bisa memilih pencuri seperti apa yang akan datang pada kita bukan?

Kita mungkin sudah memilah kenangan yang mana yang kita undang datang, tetapi kita tak bisa menolak sebuah kenangan yang datang pada kita….yang menyergap kita, kita hanya bisa mencoba menolaknya tetapi tak pernah bisa.

Kau tahu caranya menolak kenangan yang datang padamu? Atau kau bisa memilah kenangan yang datang padamu?

Katakan padaku kalau kau tahu….

Buat Mouna Kholil dari Walter Dale *)

Posted in Surat dengan kaitan (tags) , , , , , , , on November 26, 2008 by alliandasudarsa

Mouna Kholil,

Terakhir aku melihatmu di Bandara, melihatmu berlalu, menuju pesawatmu.

Pesawatmu yang akan membawa ke tempat yang dulu kau sebut rumah, sebuah rumah yang memintamu untuk pergi. Berjarak ribuan kilometer dari tempatku. Rumah yang membunuh suamimu.

Pesawatmu akan membawamu pergi meninggalkan negeri yang ingin kamu bangun sebagai rumah bagimu dan juga anakmu.

Negeri yang kemudian juga membuatmu dan anakmu untuk pergi.

Sudahkah kamu membangun kembali “rumah”di sana?

Di negeri leluhurmu yang telah kau tinggalkan selama 10 tahun.

Kau masih bertanya – Tanya mengapa aku melakukan semua itu?

Memperjuangkan anakmu, Tarek?

Berjuang untuk seorang asing yang menyerobot apartemenku?

Apa yang telah diberikan anakmu padaku sampai aku mengorbankan banyak hal?

Begitu bukan pertanyaanmu??

Mouna Kholil yang baik,

Aku mengerti mengapa kamu pergi dari rumahmu, setelah suamimu meninggal, sejak istriku meninggal, hidupku berubah, kosong, seperti tak punya hidup dan kegairahan, bahkan untuk sebuah senyum pun aku tak bisa melakukannya, hidupku monoton.

Bahkan untuk mengahdirkan kenangan istriku aku belajar bermain piano, dan 4 guru mengajariku sampai mereka frustrasi. Kau sudah mendengarkan istriku bermain musik bukan? Indah sekali… dan aku ingin menghadirkan keindahan itu lewat piano yang ditinggalkan istriku dengan jari – jariku. Tidak cukup lewat cd yang diputar berulang, terdengar tidak manusiawi bagiku.

Malam itu aku datang ke apartemen yang tak pernah kutinggali dan aku menemukan anakmu dan kekasihnya, zainab, di apartemenku.

Aku tidak bisa berkata apa2, aku kasihan dengan mereka, malam – malam mereka harus mencari tempat untuk bermalam. Akhirnya 2 orang asing itu bagiku, kubiarkan tinggal di apartemenku, lagipula aku juga jarang tinggal di apartemen itu.

Ohya…tentang apa yang dilakukan anakmu untukku sehingga aku mau melakukan banyak hal untukmu.

Bukan hal yang besar, bukan suatu yang istimewa mungkin bagimu, dan juga bagi anakmu, Tarek hanya mengajariku mendengarkan dan memukul jimbe.

Tarek mengajariku untuk mendengarkan hatiku, untuk mengikutinya.

Bahwa musik bukan sekedar suara, musik adalah jiwa, bermain musik bukan sekedar irama tetapi juga berhubungan dengan hati dan jiwa.

Sejak aku menepuk jimbe itu, gairahku kembali.

Aku merasa hidup, Mouna. Aku bahagia.

Hidupku seperti menemukan kembali semangatnya, berirama rancak seperti Jimbe yang ditepuk Tarek, aku punya keberanian kembali untuk melihat dunia dengan senyum.

Ada yang bisa membuatku tersenyum.

Irama jimbe yang dipukul berirama dengan rancak menjadi irama hidupku.

Langkahku, gerak tubuhku, tarikan nafasku, detak jantungku, menjadi rancak seirama dengan jimbe yang kutepuk.

Sungguh, Mouna, Tarek telah mengajariku hal besar bagiku, mungkin bagi Tarek itu hal biasa, hal yang simple, juga mungkin bagimu atau Zainab.

Kadang kadang kita tak perlu melakukan sesuatu yang besar untuk berarti bagi seseorang, bukan?

Bukan dengan sesuatu yang istimewa, hal – hal kecil dan sederhana bisa membuat kita tersenyum, bisa membuat bahagia.

Bagiku Tarek telah mengubah hdiupku dengan irama jimbenya.

Itulah sebabnya aku berusaha mati – matian membebaskan Tarek saat tertangkap imigrasi dan bersiap dideportasi.

Itu sebabnya aku meninggalkan pekerjaanku dan aku menyewa pengacara untuk tarek.

Karena pukulan jimbe….menjadikan hidupku rancak.

Selain rasa bersalahku, saat bersamaku aku tertangkap, saat ia membayariku tiket kereta, Karena aku ia tertangkap, dipulangkan dan ia tak bisa membangun “rumah” di sini.

Maafkan aku…tapi tak ada seandainya bukan?

Maafkan aku, yang tak berhasil berjuang untuk anakmu.

Maafkan aku, yang tak bisa ikut menyumbangkan wujud mimpi kalian.

Maafkan aku, Mouna Kholil…

Aku harap kamu dan Tarek bisa membangun “rumah” yang indah.

Katakan pada Tarek, aku masih menjaga jimbenya, aku masih berlatih dengan keras.

Katakan padanya aku menunggunya di pojok stasiun subway dengan jimbe, carilah seorang lelaki tua yang sedang memainkan jimbe di tengah riuh kereta dan orang – orang yang lalu lalang. Ia tahu tempatnya, sebab tempat itulah yang sangat ia inginkan untuk memainkan jimbenya.

Katakan terimakasihku untuk irama hidup yang telah ia ajarkan

*) Walter Dale, Mouna Khoulil, Tarek Khoulil dan Zainab adalah tokoh dalam film The Visitor, yang disutradarai Thomas McCarthy

bahagia…bahagia…

Posted in Surat dengan kaitan (tags) , , on November 12, 2008 by alliandasudarsa

12 November 2008

Katamu kau sedang bahagia,tapi kau tak menjawab kenapa…

Aku mendapatkan kalimat – kalimat yang bagus dalam sebuah katalog pameran photo.

It’s simple.
Semua orang ingin bahagia.
It’s complicated.
Karena tidak semua orang dapat meraihnya.
It’s ironic.
Semakin dicari makin sulit kita menemukannya.*)

Menurutmu apakah bahagia itu? Kamu pasti akan bilang bahwa kebahagiaan tergantung persepsi masing – masing, tergantung individu…bahagiaku akan tidak sama dengan bahagiamu…

Mungkin bagi beberapa orang bahagia berhubungan kekayaan, dengan uang…

Mungkin bagi beberapa orang berhubungan dengan orang orang yang dicintai

Mungkin bagi beberapa orang berhubungan dengan gelar akademi

Mungkin bagi beberapa orang berhubungan dengan kekuasaan

Mungkin bagi beberapa orang berhubungan dengan dunia yang damai

Mungkin bagi beberapa orang berhubungan dengan sesuatu yang sederhana

Bagimu?

Masih ingat masa masa abg dulu?

Saat jatuh cinta pertama kali…melihat senyumnya saja sudah bahagia teramat sangat, atau bahkan hanya melihat atap rumahnya saja sudah deg-degan…J

Semakin dewasa (atau semakin tua?) kebahagian menjadi rumit tidak lagi cukup dengan seulas senyum, sepotong kue, atau sebatang lollipop…

Aku mengingat kebahagiaanku pas waktu kecil adalah saat – saat panen, saat – saat bapakku ke pasar membawa hasil panennya dan mengajakku ikut. Pagi pagi kami berangkat dan kemudian sepulangnya kami akanmampir untuk sarapan sepiring Hucap (semacam kupat tahu dengan sambel kacang dan kecap), seingatku waktu kecil kami makan hucap hanya ketika menjual hasil panen ke pasar, bahkan ketika aku tidak ikut pun bapakku akan membawakan hucap sebagai oleh – oleh…

Itu sebuah kebahagiaan yang mewah saat aku masih kecil…

Sekarang? Memang masih terasa rasa mewahnya , tapi tidak cukup untuk melambungkan rasa bahagia.

Kadang2 aku berpikir ketika kecil kebahagiaan lebih mudah didapatkan dan untuk alasan – alasan yang sederhana, alasan – alasan simple…

Atau mungkin kebahagiaan berhubungan dengan momentum, dengan peristiwa, sesuatu yang bisa membuatmu bahagia , di waktu dan peristiwa lain bisa tidak membuatmu bahagia…

Entahlah…ada banyak ahli yang coba mendefiniskan tentang kebahagiaan, ada banyak buku yang mencoba memberi tips dan jalan menuju kebahagiaan, memberi panduan mencapai kebahagiaan…

Kau pernah membacanya?

Ya setiap orang ingin bahagia…setiap orang berusaha dengan caranya mencapai bahagia…

Dengan sebuah senyum, dengan sebuah tawa, dengan uang, dengan kekuasaan, dengan seks, dengan apapun…mencapai rasa bahagia…

Seperti apakah rasa bahagia itu? Kau pasti tak bisa mengungkapkannya…J seperti kau juga tak bisa menjawab kenapa kau bahagia kali ini….

Bahagia..bahagia…

Atau seperti kata Sapardi..

“sederhana saja kita diciptakan agar ada yang bisa merasa bahagia…”

*)dari katalog pameran photo “Happiness” by irwan ahmett

23 Oktober 2008-Sebuah Teori Tahap Tahap Relasi

Posted in Surat dengan kaitan (tags) , , , , on Oktober 25, 2008 by alliandasudarsa

Haiii…mungkin kamu terlambat menerima ini seharusnya sudah 2 hari yang lalu kamu menerimanya….

Sudah punya pacar? Kekasih? Pasangan?

Atau sekarang sudah menikah? Anak berapa?

Hehehehe standarkan pertanyaan…atau kamu mungkin sedang bosan dengan pertanyaan pertanyaan standar itu…

Aku mau bercerita tentang sesuatu…

Kemarin aku dan seorang teman mengobrol tentang sesuatu.

Awalnya dia menanyakan sampai dimana relasimu dengan kekasihmu

Waktu itu aku bingung menjawabnya seperti apa dan kemudian terjadilah diantara kami obrolan tentang fase fase dalam relasi percintaan. Hehehehe… kayak yang ahli saja dalam relasi :D

Fase pertama tentu saja adalah pertemuan…saling mengamati, saling menjajagi, mencoba saling mengenal. Istilahnya PDKT, saling berkirim sms, saling menelepon.

Tahap selanjutnya adalah mulai berteman, saling bercerita, curhat (dan mungkin ini awalnya..saling curhat…kata temanku, Aam, Curhat ki cen biadab..hahahahaha ) apalagi jika curhatnya tentang kesakitan, tentang kesedihan, betapa merananya hidup, lalu salah satunya merasa ingin menjadi pahlawan..i want to be your hero, baby… atau bercerita tentang betapa hebat dirinya dan betapa ruginya dulu orang yang sudah menolak atau memutuskannya….pokoknya berpusat pada dirinya…. mulai keluar sms – sms yang mungkin sebenarnya gak penting…sudah tidur belum? Sudah makan? Makan apa? Ya SMS yang datang tengah malam dan hanya sekedar mengucapatkan “met bobo”

Setelah itu memasuki tahap, termehek termehek, atau kata temannya temanku tahap ilusi,

Semua terasa menjadi indah, dunia milik berdua, sms yang dianggal gak penting itu tiba tiba menjadi sms yang sangat peting , telepon mulai terjadwal pagi, siang sore malam atau 2 atau 1 jam sekali. Merasa penting harus mengabarkan atau mengetahui keberadaan satu sama lain, dan tidak bisa tidur sebelum mengucapkan menerima sebuah sms ‘met bobo”. Masa yang indah. I can’t live without you lah…

tiba tiba harus merubah dirinya menjadi yang lain, dari yang tidak suka bunga menjadi pecinta bunga sejati, dari yang sukanya mettalica tiba tiba suka kangen band….

Setelah sekian lama mulai menyadari bahwa kemarin – kemarin adalah ilusi. Bahwa itu bukan dirinya, ia menjadi orang lain, mulai sadar merasa aneh.

Membaca sms atau puisi2 kemarin dan menjadi malu. Mulai tahu bahwa ternyata pasangannya suka ngupil di depannya, mulai sadar ternyata pasangannya kentutnya bau, hal hal kecil semacam itu. Mulai sadar banyak hal di diri pasangannya ternyata banyak yang tidak ia sukai. Mulai menyadari banyak hal yang berbeda diantara mereka.

Dan berlanjut pada kebosanan, membenci sms yang datang tengah malam, membenci sms yang hanya menanyakan lagi dimana dan ini terus berlanjut dengan kebosanan yang akut. Saling mencoba untuk saling mendominasi. Mulai ada pertengkaran – pertengkaran.

Jika tidak teratasi ya, bubarlah alias putus….patah hati dan mulai memburu yang lain untuk datang pada kebosanan yang lain suatu hari nanti.

Jika bisa mengatasi..mulailah tahap saling berkompromi, saling menjajagi perbedaan masing masing, saling menjajagi segala kemungkinan..saling menurunkan ego masing – masing. Jika melewati tahap ini maka mulailah menerima apa adanya. Mulai merasa bahwa memang ia jelek, kentutnya memnag benar benar bau atau memang ia menikmati ngupil di depan umum.

Mulai mendapatkan kompromi dan kesepakatan.

Setelah itu mungkin akan termehek – mehek lagi. Jatuh cinta lagi.

Tetapi ini hanya teori dari obrolan gak mutu hehehe boleh percaya atau gak….

Setiap orang kan berbeda, mungkin saja ada orang yang termehek – mehek sepanjang hidupnya…

Mengutip kata – kata teman..paling sulit dalam berelasi dengan seseorang adalah jatuh cinta berkali kali dengan orang yang sama… hehehe

Jadi kapan kamu mengenalkanku pada kekasihmu?

25 oktober 2008-tentang kematian

Posted in Surat dengan kaitan (tags) , , on Oktober 25, 2008 by alliandasudarsa

Masihkah kamu berduka?

Merenungi kematian ayahmu…entah mengapa aku bersedih untuk kematian ayahku, mengingat yang ia lakukan selama hidupnya, katamu sesaat sebelum berangkat menuju kampung halamanmu.

Aku bersedih. Bagaimanapun ia ayahku. Sejahat apapun ia padaku dan pada ibuku, ia tetap ayahku, katamu dalam sms sesaat setelah pemakaman ayahmu.

 

Masihkah kamu berduka untuk sebuah kematian yang pernah kamu sebutkan dalam doamu dulu?

Doa – doa yang kamu sebut dalam keputusasaan yang sangat, doa – doa yang juga meminta sebuah kematian untukmu, untuk dirimu sendiri.

 

Kematian?

Seperti apakah?

Kau tak pernah mau bercerita tentang rasanya saat – saat kau terbaring dan dokter menyatakan kau mati, tetapi kemudian kau terbangun membawa sebuah luka di pergelangan tanganmu yang masih kau biarkan bekasnya dan tentu saja kau juga membawa penyembuhan luka yang telah menahun.

Kau mati bukan waktu itu?

Kau tak pernah menjawabnya, bertemukah kau dengan malaikat atau bahkan dengan Tuhan??

Kau tak pernah mau bercerita…

 

Seperti apakah kematian itu?

Bagaimanakah rasanya? (apakah kau merasakan sesuatu saat itu? Masih adakah rasa dalam kematian?)

Apakah hanya sekedar tidak berfungsinya tubuhmu?

Masih ingat film “Flatliners”? film tentang sekelompok mahasiswa kedokteran yang mencoba memasuki alam kematian (aku suka adegan saat Kiefer Sutherland berteriak di tepi sungai dengan latar senja yang mulai kelam “it’s good day to die”), mereka berhasil memasuki alam kematian (mungkin) dan mereka kembali dengan sebuah luka yang terkuak, luka yang menghantui mereka. Seperti itukah?

Kau tak pernah bercerita ?

Hanya kau bilang aku membawa luka di lenganku, jika kamu ingin tahu lukailah nadimu.

 

Kematian…tubuh kita mati, kemudian roh kita keluar melayang, seperti di film-film.

Kau juga menonton film 21 grams bukan?

Katanya berat nyawa kita 21 grams karena setelah kematian tubuh kita berkurang beratnya sebesar 21 grams, benarkah?

 

Di keluarga besarku, ada cerita keluarga yang terus diceritakan.

Aku diceritakan ayahku dan nenekku, tentang kakek buyutku, kakeknya kakekku.

Mungkin nanti jika aku punya anak aku akan menceritakannya.

Waktu itu harinya hari jumat kliwon pagi. Bapakku tinggal dengan kakek buyutku itu, seperti biasa bapakku (saat itu berumur 17 tahun) membuatkan kopi dan membangunkannya ternyata kakeknya sudah meninggal di kamar sendirian dengan damai. Lalu berkumpullah keluarga besar, semuanya berkumpul, tetangga, kerabat semua melayat. Jam 12 siang  tiba tiba kakek buyutku terbangun kembali, hidup, benar – benar hidup. Semua kaget. Kakek buyutku hanya tersenyum terus menyuruh anak cucunya untuk menyiapkan pesta, beras di lumbung dimasak, ayam dan kambing disembelih, kolam dikuras ikannya, kelapa diturunkan, pokoknya pesta untuk sebuah kematian yang tidak jadi. Dan jadilah pesta, semua merasakan makanan yang katanya terasa sangat enak, orang orang menambah porsi makan mereka.

Lalu tengah malamnya kakek buyutku mengumpulkan istri dan anak cucunya.

Semua berkumpul di sekelilingnya. Lalu mulailah kakek buyutku bercerita kenapa ia kembali.

“Aku sudah meminta kepada yang memiliki hidupku untuk kembali, untuk menunda keberangkatanku, aku berkata pada-Nya, aku tidak ingin menyusahkan anak cucuku, jika aku mati hari ini, jumat kliwon, kasihan anak cucuku, harus menunggui makamku selama 40 hari (dalam kepercayaan di tempatku orang yang meninggal hari jumat atau selasa kliwon harus ditunggui, katanya suka ada tangan – tangan jahil yang suka menggali makam untuk mendapatkan ilmu – ilmu sesat), dan lagi pula aku belum pamit kepada nak cucuku”

Itu yang diceritakan ayah dan nenekku, kalimat itu sama persis karena mereka tidak bisa melupakan itu.

Setelah itu kakek buyutku meramal masa depan istri dan anak cucunya.

Istrinya akan menyusul 3 tahun lagi (dan tepat 3 tahun nenek buyutku meninggal).

Anaknya yang ini akan begini, cucunya yang itu akan begitu, semuanya ia ramalkan.

Kata ayah dan nenekku ramalan – ramalannya terbukti.

Setelah itu kakek buyutku berpamitan

“Sudah saatnya, jangan ada yang menangis,tersenyumlah”

Dan kakek buyutku berbaring dan menutup mata dengan tersenyum. Dan ia meninggal.

Tak ada yang menangis semua tersenyum, kata nenekku, itu adalah satu – satunya kematian yang tak ia tangisi. Kematian ayahnya.

Kata ayahku, itulah manusia yang telah mencapai kesempurnaan sebagai manusia, bisa tahu dan menentukan kapan ia mau meninggal…

Bisakah kita seperti itu?

Menentukan kematian kita? Menentukan salah satu yang menjadi rahasia terbesar Tuhan??

 

Jika bisa, kapan kamu ingin kematian menjemputmu?

 

Seperti itukah kematian? Membahagiakan?

Ah kau tak pernah mau bercerita apa yang kau dapati disana saat darahmu terkuras habis..

Apakah begitu mengerikan bagimu?

Begitu menakutkan?

Hingga kau berhenti memohon sebuah kematian?

Hingga kau berdoa untuk umur panjang?

Hingga kau menangis untuk ayahmu yang telah berulangkali kau doakan untuk sebuah kematian?

SMS mu hanya mengatakan…

 

“Aku menangis sebab ia ayahku”

 

10 Oktober 2008…Flying Learning

Posted in Surat dengan kaitan (tags) , on Oktober 10, 2008 by alliandasudarsa

Kamu pasti pernah bermimpi terbang tinggi…terbang bebas, seperti kata lagunya beatles free as a bird, terbang tinggi bagai burung entah pipit atau elang tetapi terbang.

Kau pasti pernah merasa iri pada burung – burung yang terbang di atasmu meliuk, meluncur kemudian membumbung tinggi, menembus pucuk pohon, kemudian menembus awan, kau pasti pernah mengangankan terbang. Bahkan mungkin kau iri pada kupu kupu yang terbang hanya setinggi pucuk tidak lebih tinggi ke awan seperti elang.

Mungkin kau pernah bertanya kenapa evolusi manusia menjadikan tangan bukan sayap.

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa angan angan terbesar manusia adalah bisa terbang, menggapai langit. Hampir 90 persen manusia mempunyai keinginan untuk terbang.

Sejak ratusan tahun lalu atau sejak manusia mengenal peradaban, (atau bahkan lebih jauh lagi sejak manusia mempunyai rasa iri pada burung burung), manusia sudah mempunyai mimpi untuk terbang.

Hamper semua peradaban memiliki kisah manusia manusia yang terpilih yang bisa terbang mencapai langit. Kau pasti tahu… Yunani mempunyai legenda icarus yang terbang ke langit dengan sayap buatannya, yang kemudian terbang ke langit dan sayapnya terbakar oleh panas matahari, Tibet mempunyai legenda para biksu yang mampu terbang, china mempunyai kisah manusia manusia terpilih yang bisa terbang (lihatlah film film kungfu itu…mereka terbang saling bekerjaan dari pucuk pohon ke pucuk pohon seperti angin, ah aku ingat film crouching tiger hidden dragon, melihat chow yun fat dan zhang ziyi berkejaran di pucuk – pucuk pohon dan bertarung di pucuk bambu), jawa, punya gatotkaca penguasa langit yang perkasa, atau banyak kisah lagi tentang manusia manusia yang terbang tinggi.

Dari barat ke timur, di semua peradaban manusia selalu ada manusia “super” yang terbang tinggi. Dari peradaban kuno sampai peradaban modern, manusia memiliki dongeng tentang terbang. (ada clark kent alias superman yang mampu terbang menembus atmosphere-aku suka bertanya Tanya jangan2 superman tidak membutuhkan oksigen, karena ia mampu bertahan terbang di luar atmosphere yang hampa udara J )

Kata orang bahwa kita bisa terbang di luar angkasa karena disana hampa udara, lihatlah film2 hollywood yang bercerita tentang angkasa pasti astronot astronot itu terbang melayang. Sebab disana tidak ada gravitasi.

Sebab kita tak punya sayap dan bumi memliki gravity kita tak bisa terbang.

Sebab itulah manusia terus bermimpi untuk menaklukan langit.

Mencapai bintang dan langit.

Kamu tahu Leonardo da vinci sudah membuat sketsa pesawat helicopter?

Kamu tahu banyak orang yang memasang sayap di tubuhnya entah dari bahan apa dan kemudian meloncat dari gedung atau bukit atau pohon dan kemudia mati?

Dan kemudian mumncul balon, zeppelin, gantole, parasut terbang dan kemudian pesawat terbang.

Thanks to wright bersaudara yang telah berhasil mewujudkan mimpi untuk terbang.

Beberapa bulan yang lalu aku menemukan sebuah judul album dari Everybodi loves Irene, judulnya the very first thing you must learn about flying is gravity (ah kata2 yang cerdas bukan, dan ternyata lagu mereka pun cerdas)

Aku membayangkan jika aku membuat sebuah buku tentang teori terbang maka aku akan menyusunnya menjadi langkah langkah praktis untuk terbang..

Dan yang pertama adalah yang diatas tadi :

The very First thing you must learn about flying is GRAVITY,

Jika kita bisa mengatasi gravity bukankah kita tidak akan terjatuh ke bawah mungkin kita akan tetap melayang? Kalo saja kita bisa menolak hukum lama tentang gravity… J

The second is AIR

Ruang kita jika terbang adalah udara, bukan? Kita harus belajar tentang udara, agar kita mengendalikannya.

The Third is WIND,

Terbang tentu saja membutuhkan angin, kita tak bisa melawan angin yang kuat. Kita harus bersahabat dengan angina.

The fourth is BODY,

Tentu saja kita harus mengenal badan kita. Mungkin terbang berhubungan dengan struktur tubuh kita, struktur tulang kita, mungkin berat badan kita akan menentukan kemampuan terbang kita.

The fifth is WINGS (optional)

Jika kita bisa terbang tanpa sayap untuk apa kita membutuhkan sayap bukan?

Ah terbang, andai saja Tinkerbell itu nyata kita bisa meminta bubuk perinya seperti yang ia berikan pada Peter Pan dan Wendi agar mereka bisa terbang menuju Neverland…..

Apakah kau juga ingin terbang?

Tinggi kesana….

Kalau kau sudah bisa terbang, jemputlah aku…….

6 Oktober 2008

Posted in Surat dengan kaitan (tags) , , on Oktober 6, 2008 by alliandasudarsa

6 Oktober 2008

Teman, apakah kau suka sulap?

Saat kita masih kecil aku selalu merasa kagum, selalu terpesona saat menyaksikan sulap, tiba tiba bunga di tangan menghilang kemduian berganti atau tiba tiba si pesulapnya menghilang di panggung hanya dengan mengibaskan sebuah kain hitam dan buzz tiba tiba ia menghilang begitu saja.

Kalau saja sulap itu sesuatu yang nyata, yang bisa dipraktekkan dalam hidup kita sehari hari, tentu mneyenangkan tiba tiba aku menghilang dengan hanya menjentikan ibu jari, dengan abracadabra atau sim salabim, wuzzz dan aku menghilang…

Dan muncul lagi dimana pun, kapan pun, aku menginginkannya dan menghilang lagi setiap saat.

Pernahkah kau ingin menghilang?

Menghapus keberadaanmu, dan menghilang begitu saja , kau seperti tak pernah ada?

Seorang teman pernah mengajak ku atau tepatnya menantangku, untuk membuat sesuatu yang hebat, dasyat dan spektakuler, kemudian setelah itu pergi dan menghilang, jadi hanya meninggalkan jejak yang spektakuler itu.

aku dulu berpikir itu akan mengasyikan.

Menghilang.

Seperti judul film yang kamu suka, film yang panjang itu, Gone with The Wind.

Seperti debu yang tertiup angin, menghilang dan entah kemana, tak ada. Tak ada jejak yang ditinggalkan.

Tetapi seperti kata hukum energi, bahwa energi tak pernah hilang, hanya berubah bentuk.

Kita tentu saja tak bisa benar benar menghilang.

Tetapi aku ingin menghilang. Tentu saja darimu juga. Aku ingin menutup diriku dengan sebuah kain hitam dan kau tarik sambil berteriak “sim salabim abracadabra” dan hilanglah aku.

Tetapi sayang kamu bukan tukang sulap.

Dulu kau sering menceritakan bermimpi tentang tinggal di sebuah kota yang asing, benar benar asing dimana tak seorang pun mengenalmu, bahkan mungkin kau tak paham bahasa mereka. Kau tinggal di kota asing itu dan memulai sesuatu yang baru, mempelajari bahasa mereka, mengualng lagi tahap perkenalan, memulai mencari teman atau kekasih. Kemudian setelah mengenal kota itu, mengenal dan dikenal orang orang, kau kembali mencari kota asing yang lain, mungkin kota yang lebih asing dengan orang orang asing lainnya dan bahasa lainnya.

Dan masih ingat mimpiku juga?

Tinggal di kota yang terpencil yang benar benar jauh, tak ada tv, listrik, internet, benar benar terisolasi, dan di sekitarku benar benar tak ada yang mengenalku.

Akan menyenangkan tentunya… sepertinya…atau tidak sama sekali…

Saat ini aku ingin menghilang…pergi entah kemana

Maukah kau menjadi tukang sulap itu?

2 oktober 2008

Posted in Surat dengan kaitan (tags) , , , , on Oktober 4, 2008 by alliandasudarsa

2 Oktober 2008

Lebaran hari ke 2

 

Hai…

Apa kabarmu? Dimana kamu merayakan hari raya idul fitri kali ini?

Berapa lama aku tidak menemanimu melewatkan bulan puasa?

Mungkin lebih dari lima tahun aku tidak menemanimu melewatkan bulan puasa bersamamu.

Dan sudah lama sekali kita juga tidak berkirim kabar.

 

4 tahun lalu adalah kabar terakhir darimu yang kakukirimkan lewat sebuah email panjang setelah itu tak ada lagi kabar darimu. Email email yang tak berbalas, pesan pesan singkat yang tak terkirim dan telepon – telepon dengan suara perempuan asing  yang ramah seperti mengenal kita dengan baik , kucoba berkali kali akhirnya aku menyerah, teman teman kita pun tak tahu kau dimana

…dimana kamu? Kau menghilang begitu saja

 

Email terakhir aku masih ingat, itu hari terakhir bulan puasa, kau mengabarkan sebuah kesedihan, kau hanya bilang sedang sedih, tak bercerita mengapa dan kenapa…

Selebihnya kau mengatakan kerinduanmu padaku, selebihnya kau bercerita tentang puasa  yang kamu lewatkan sendirian, tanpa siapapun.

Setelah hampir 6 kali kamu lewatkan puasa bersamaku, dan tahun itu kau untuk pertama kali berpuasa sendirian.

Terasa lain katamu, tak ada lagi tantangan, kamu bilang puasa kali itu, kamu gak tuntas penuh puasa, banyak bolong – bolong.

“Tak ada setan lagi di sebelahku yang menggodaku” katamu.” Selama 6 kali aku melewatkan puasa bersamamu, aku merasa puasaku lebih bermakna”

 

Aku ingat selama 6 tahun kita melewatkan waktu bersama, aku menemanimu melewatkan berpuasa, menjadi setan yang menggodamu. Atau lebih tepatnya kau menjadikanku setan.

Setiap pagi kau akan datang membangunkanku dan membuatkanku secangkir kopi, siangnya kau akan mentraktirku makan siang dengan juice mangga kesukaanmu, kau membelikanmu rokok, atau es krim untukku. Atau sesekali kau memintaku memancing emosimu, amarahmu.

Kau menjadikanku setan yang menggodamu.

Awalnya aku ragu – ragu untuk sekedar merokok atau minum di depanmu tetapi kau malah menciptakan godaan bagi dirimu sendiri.

“Bagiku tak asyik lagi kalo berpuasa tanpa godaan, tanpa tantangan….”

Katamu “Jadi sekarang kamu harus menjadi setan, godalah aku, rayulah aku”

Dan selama 6 tahun aku menjadi setanmu. Tak sekalipun aku berhasil menggodamu.

 

Dan di akhir bulan puasa, kamu akan memlukku dan menangis, terimakasih, katamu dan setelah malam itu kau akan berada semalaman di dalam kamar, berdoa dengan diam dan khidmat.

“Aku merasa telah menang dengan diriku, dengan nafsuku, dengan emosiku dan amarahku”

Setelah shalat id kau akan datang ke kamarku Dan setelah itu, seperti tahun tahun sebelumnya aku memberikanmu sebuah hadiah, hadiah yang sama, sekotak coklat dan seikat bunga yang akan kamu letakkan di makam ibumu dan seharian kau akan disana di makam ibumu, berbincang dengan ibumu.

“Ia mendengarkanku”

 

6 tahun aku menjadi setanmu.

Sekarang siapakah yang menjadi setanmu?

Siapa yang kau jadikan setan untuk menggoda dan merayumu?

 

Kabari aku kalo kau masih membutuhkan setan untuk menggodamu, menantangmu.

Aku masih bisa menjadi setanmu…..

Kabari aku

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.