Kali ini di telaga mana kau melepas selendangmu dan berenang?Berendam? Memuaskan hasratmu akan air bumi yang jernih dan dingin? Bermain main air, saling mencipratkan air bersama saudara saudaramu?
Aku membayangkan kau melayang dengan selendangmu, mencari cari telaga atau sendang atau mata air yang bisa kau gunakan untuk bermain – main air? Dan tak kau dapati air yang jernih. Telaga yang indah yang bisa memantulkan cahaya purnama.
Banyak telaga yang mengering, dikelilingi hutan yang gundul, bukit bukit yang tak berhutan. Mata air yang mengering. Banyak sendang yang berbau, penuh busa detergen atau berbau kotoran manusia. Telaga – telaga tak bisa kau renangi lagi sebab dangkal dan penuh eceng gondok atau tumbuhan gulma lainnya.
Kau melayang diantara awan – awan. Dari telaga ke telaga, dari mata air ke mata air. mencari kejernihan air yang bisa membuat bersenang. Aku juga mencarimu dari telaga ke telaga. Mengendap ngendap mencarimu. Setiap kali kamu dan saudara saudaramu melayang turun aku bersiap – siap di balik semak belukar bersiap – siap mengintipmu kemudian bersiap – siap mencuri selendangmu. Tak setiap kali aku siapkan diri, kalian langsung terbang kembali.
Di telaga manakah kali ini kau berada? Telah ratusan telaga kusambangi dan mungkin juga kau dan saudara – saudaramu.
Aku ingin menggenapi kisah kita, nawang wulan. Aku ingin mengendap – mengendap, mengintip ketelanjanganmu kemudian aku terbakar api birahi, ingin memilikimu. Kemudian aku mencuri selendangmu dan kemudian aku akan bersiul atau berdehem agar kalian terbirit – birit berpakaian dan terbang lalu aku melihatmu kebingungan sebab tak kau temukan selendangmu juga pakaianmu. Aku menunjukkan diriku dan masih di air kau memohon padaku, untuk menolongmu.
Aku ingin menggenapi kisah kita. Aku ingin meminangmu dan kemudian kita menikah. Agar kau memberiku Nawangsih, anak kita. Agar kau tanak nasi dengan sebutir beras. Agar kubuka periuk itu. Agar kau hilang kekuatanmu dan kau harus menjadi manusia biasa yang menanak beras dan menumbuk padi. Agar kau temukan selendang dan ananta kusuma-mu di balik padi – padi yang habis kau tumbuk. Agar kau tinggalkan aku juga nawangsih Agar kubakar jerami hitam setiap kali nawangsih meminta susu.
Kisah kita tak lagi genap, Sebab telah kering telaga – telaga itu Sebab berbau anyir juga berbusa mata air – mata air itu. Sebab telah kubabat bukit juga hutan dan kubunuh akar akar itu Sebab telah kubuang segala sampah ke telaga telaga itu.
Aku ingin menggenapi kisah kita tetapi kamu tak mungkin mandi di kamar mandi atau sumur atau bathtub atau shower, bukan, nawang wulan??